Detik Yang Menentukan Masa Depan Kita

book

Kesalahan terbesar dalam cara berpikir,yang menjadi penghalang seseorang untuk meraih cita cita hidupnya adalah :" Tidak menghargai waktu". Hal hal kecil yang dianggap sepele diabaikan ,justru menjadi batu sandungan untuk bisa menapaki masa depan dengan mantap. Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menggurui siapapun , hanya keinginan untuk berbagi pengalaman hidup,menjadi motivasi satu satunya bagi saya untuk menulis artikel sederhana ini.

Kajian ini tentunya bukan hasil research dari seorang ilmuan,namun merupakan himpunan dari pengalaman pribadi ,selama lebih kurang 15 tahun berkeliling tanah air . Serta menemui berbagai komunitas masyarakat dari berbagai ragam suku,budaya dan latar belakang pendidikan dan sosial. Hasrat hati untuk bisa mengubah nasib atau meningkatkan taraf hidup ,serta meraih impian demi impian, seringkali terhalang,bahkan terkandas,bukan karena adanya faktor eksternal,tetapi justru berasal dari diri sendiri.


Introspeksi Diri

Menyukuri hidup ,adalah sangat baik ,untuk menyatakan pada diri sendiri,bahwa kita bukanlah orang yang tidak tahu berterima kasih. Namun berpuas diri secar kebablasan,sering menyebabkan orang "mabuk" kesenangan. Sehingga lupa suatu hal yang sangat penting,yakni bahwa hidup itu bersifat dinamis,yang bergerak dari waktu kewaktu .Dari satu sudut ke sudut yang lain. Dan barang siapa yang tidak bergerak atau hanya berjalan ditempat,maka ia akan terlanda oleh dinamika hidup itu sendiri. Padahal untuk mengantisipasinya ,hanya diperlukan sedikit kerendahan hati untuk melakukan introspeksi diri.

Kalau kita mau mengintrospeksi diri, maka dengan jujur harus diakui,bahwa sering kali kita kurang menghargai waktu. Tidak jarang kita hanya duduk bengong,melamun ,tanpa melakukan atau memikirkan sesuatu yang bermanfaat bagi hidup. Padahal waktu sedetik itu tidak ternilai. Satu detik terlambat menginjak rem.bisa berakibatkan sesuatu yang fatal.

Penampilan yang menentukan dinilai dalan hitungan detik.

Ketika kita tampil sebagai pembicara,baik dalam lingkup yang terbatas,maupun berbicara didepan umum,maka detik detik awal penampilan kita,akan menentukan penilaian audience terhadap kita. Begitu kita tampil dengan wajah lusuh ,yang tidak enak dilihat orang,maka apapun yang selanjutnya kita katakan,tidak akan di dengar lagi .Atau dianggap angin lalu. Atau kita mengucapkan salam dengan suara yang tidak mantap dan mengumam,akibatnya akan sama. Proses orang menilai kita ini,hanya berlangsung beberapa detik. Ibarat kita ikut auction lelang terbuka,begitu kita bengong beberapa detik,maka :" sold", kesempatan lewat di depan mata kita.

Memanfaatkan Kesempatan Berbicara

Ketika tiba giliran kita untuk berbicara,baik didepan seseorang,maupun dalam suatu pertemuan,pertama yang harus kita lakukan adalah :" eye contact", sekilas menatap yang hadir dengan pandangan mata yang sopan. Hal ini perlu.untuk menunjukkan rasa percaya diri kita. Karena orang yang tidak berani menatap mata orang lain,bisa diartikan:

Makna "Eye Contact" atau Kontak Mata:

  • Tidak memiliki rasa percaya diri.
  • Ada sesuatu yang disembunyikan (tidak jujur)
  • Tidak menghargai audience atau lawan bicara kita
  • Menunjukkan image ,tidak serius dalam pembicaraan.
Penampilan

Memang kita tidak bisa menilai orang ,dengan hanya melihat penampilan luarnya saja. Ibarat sebuah buku,tidak dapat dinilai hanya dari judulnya saja. Tetapi jangan lupa, bila judul buku tidak menarik,maka tidak ada orang yang akan tertarik untuk memilikinya. Begitu juga ,bila penampilan kita terkesan tidak rapi ,maka sehebat apapun usaha kita untuk meyakini orang,akan sia sia belaka.

Nah,waktu itu ada ditangan kita. Dan kita diberikan kebebasan untuk memanfaatkannya dengan sebaik baiknya. Semoga artikel kecil ini,dapat memberikan sedikit sumbangan untuk menginspirasi setiap orang yang membacanya.Agar selalu memanfaatkan waktu dengan secermat mungkin dan senantiasa berbenah diri,untuk tampil menjadi sosok yang mampu menampikan aura yang positif. Aura yang positif,secara langsung ataupun tidak ,akan menunjang charisma diri,dalam menjalani hidup bermasyarakat,dimanapun kita berada.

Wollongong, 27 Januari,2014

Tjiptadinata Effendi / Kompasiana