Ingin Mudah Dipahami? Ingat Pedoman Ini

book

Sudah menjadi penyakit umum bahwa orang yang ingin dianggap hebat atau terlihat pintar suka berkomunikasi dengan bahasa yang rumit. Akibatnya muncullah 'kasus Vickynisasi' seperti yang beberapa waktu lalu terjadi, ketika ada orang yang entah sadar atau tidak membuat-buat istilah-istilah ketika menyampaikan pernyataan kepada publik. Hasrat untuk terlihat keren pun jadi berujung pada bulan-bulanan cemoohan di berbagai media.

Padahal seperti ditulis Frank Lutz, seorang konsultan komunikasi di Amerika Serikat yang mnejadi konsultan bagi banyak politikus, yang terpenting sebenarnya bukan 'apa yang Anda katakan' tapi 'apa yang orang dengar.' Dalam bukunya yang berjudul In Words That Work: It's Not What You Say, It's What People Hear yang dikutip Time.com, Luntz memaparkan bahwa ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan. Meski ini prinsip yang digali dari komunikasi poplitik, bukan berarti orang awam tak bisa memakainya. Coba simak ya.

1) Sederhana: Gunakan bahasa sederhana:

Hindari istilah-istilah yang tidak populer atau istilah yang sudah klise alias terlalu banyak dipakai. Bicaralah sesuai dengan kondisi atau latar belakang orang yang dihadapi.

2) Singkat: jangan gunakan kalimat-kalimat panjang.

Gunakan kalimat pendek dan sederhana. Coba perhatikan tema-tema hari-hari peringatan yang biasanya dipampangkan di sekolah-sekolah atau kantor-kantor. Pahamkah Anda atau tertarikkah Anda membacanya?

3) Jujur

Ada kalimat bijak yang layak diingat: 'Kalimat yang Anda gunakan akan menjadi Anda - dan Anda adalah kata-kata yang Anda gunakan.' Percuma saja segala idealisme itu jika Anda mengungkapkannya dengan sikap yang tidak tulus atau sikap yang bertentangan dengan apa yang dikatakan.

4) Konsisten

Gunakan kalimat yang sama sepanjang waktu untuk memperkenalkan diri Anda atau menjadi semboyan Anda. Ambil contoh semboyan-semboyan yang dipakai oleh merk-merk ternama di dunia. Itu adalah semboyan yang sama selama puluhan tahun dan sudah tertanam di benak generasi-generasi yang berkelanjutan. Intinya, jangan selalu berubah sikap, orang akan bingung siapa diri Anda sebenarnya.

5) Tawarkan sesuatu yang baru.

Yang baru ini bisa jadi sesuatu yang lama namun dikemas lagi secara lebih unik dan kreatif. Ini akan membuat orang berkata, ' Wah, kok enggak kepikir yang kayak gitu, ya!'

6) Perhatikan rima bahasa.

Teknik ini biasanya dipakai saat harus berbicara di depan umum. Gunakan rima atau bunyi yang sama di bagian akhir kalimat untuk memperkuat pesan dan menarik perhatian. Salah satu pembicara ulung yang suka menggunakan teknik ini adalah Presiden Soekarno alias Bung Karno. Lihatlah kalimat yang dipakainya dalam pidato di badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI): 'Berdirilah saya punya bulu, kalau saya membaca Tuan punya surat, yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu, sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, Tuan tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka...'

(Sumber : Bambang Aris Sasangka / http://www.harianjogja.com/)