Jangan Ragu Memilih Ilmu Komunikasi

Blog Single

Semarak tahun ajaran baru telah terasa. Begitu juga bagi yang hendak meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Memilih jurusan yang diminati, harus dengan pertimbangan yang matang. Untuk peminatan ilmu sosial, beberapa progran studi seperti akuntansi, ekonomi, managemen, ilmu hubungan internasional, hukum, hingga psikologi, biasanya sangat jamak dijadikan sasaran. Atas dasar prospek kerja yang menjanjikan, hingga prestige tersendiri yang disandang dengan embel-embel jurusan 'papan atas'. Jika sederet program studi unggulan tersebut dikatakan memiliki beberapa nilai tambah, maka Ilmu Komunikasi juga memiliki nilai dan daya tarik tersendiri. Peminat program studi ini tidak kalah dibanding peminat program studi unggulan yang lain. Begitu juga lapangan kerja yang siap menampung lulusan dari Ilmu Komunikasi, sangat banyak dan beragam. Sayangnya, pemahaman masyarakat berkenaan dengan seluk-beluk jurusan ini belum begitu mapan. Sehingga mungkin beberapa orangtua lebih merekomendasikan anak-anak mereka untuk memilih program studi yang sudah familiar dan mereka ketahui pasti. Misalnya disarankan masuk akuntansi agar kelak bekerja kantoran dan menjadi akuntan. Atau disarankan memilih managemen agar kelak bisa menjadi manager. Disarankan memilih hukum agar bisa menjadi hakim atau pengacara handal, atau hubungan internasional agar kelak dapat bekerja diluar negeri. Memang tidak ada yang salah dengan segala harapan pada setiap disiplin ilmu. Hanya saja, apa yang dipikirkan orang ketika menyebut jurusan Ilmu Komunikasi? Memang, Ilmu Komunikasi memiliki peluang kerja yang amat majemuk. Tidak harus spesifik tertuju pada satu sasaran karier. Mungkin karena faktor itulah masyarakat jadi kurang memahami jika masuk jurusan ilmu komunikasi, 'kelak akan menjadi apa'. Untuk memahaminya, mari kita selangkah lebih dekat dengan Ilmu Komunikasi.

Komunikasi, Gabungan Antara Seni dan Ilmu Dalam Mengolah Pesan

Secara sederhana, komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana suatu pesan disampaikan dari sumber (sourche), melalui media (channel), ke penerima pesan (receiver). Kemudian bagaimana pesan tersebut dimaknai, untuk kemudian menghasilkan feedback.

Dalam Ilmu Komunikasi, terdapat sebuah aksioma yang menyatakan bahwa, "we cannot not communicate". Manusia pada hakekatnya tidak akan pernah bisa lepas dari aktivitas komunikasi. Adalah suatu pemahaman dangkal apabila mengatakan bahwa aktivitas komunikasi hanya terjadi pada saat seseorang sedang berbicara dengan orang lain. Secara garis besar, komunikasi dapat terjadi dalam diri satu individu (komunikasi intra-personal), komunikasi yang terjadi antara dua individu (komunikasi inter-personal), dan komunikasi kelompok yang melibatkan lebih dari dua individu. Komunikasi juga bukan hanya tentang aspek verbal, namun juga mencakup aspek non-verbal. Misalnya sikap tubuh atau gesture (mengapa orang melipat tangannya, kontak mata, dll), simbol-simbol (yang mencakup bahasa, huruf, dan simbol-simbol lainnya), dan lain sebagainya. Semua mencakup dalam kompleksitas Ilmu Komunikasi. Ketika kita bergumam didalam hati saat menangkap kesan pada suatu fenomena, artinya kita tengah melakukan suatu aktivitas komunikasi. Bahkan ketika kita diam-pun, selalu ada makna (yang secara sadar maupun tidak) berusaha kita sampaikan dibalik 'diam' tersebut.

Mempelajari ilmu komunikasi, adalah berusaha untuk menciptakan makna dan kesan pada suatu pesan yang disampaikan. Juga bagaimana agar pesan tersebut dapat tersampaikan secara efektif. Misalnya pesan yang berusaha disampaikan dalam iklan, televisi, berita, hingga dalam membangun relasi, semua harus didasari basis komunikasi yang efektif. Begitu juga dengan kehidupan manusia sehari-hari. Lantas, siapa yang tidak membutuhkan komunikasi efektif? Tentu saja tidak ada. Maka tidak harus berpanjang lebar untuk membuktikan bahwa akan sangat banyak pihak yang membutuhkan seorang lulusan disiplin ilmu komunikasi.

Karena aplikasinya yang dekat dekat dengan keseharian, mempelajari ilmu komunikasi menjadi sangat menyenangkan. Komunikasi disampaikan melalui perantara media. Saat ini, ketergantungan manusia terhadap media sudah sangat tinggi. Fenomena ini juga menjadi 'lahan'nya orang komunikasi. Media Massa (media cetak dan siar) maupun Media Baru (jaringan internet, social media, dll), akan sangat akrab dengan keseharian mereka yang mengambil konsentrasi ilmu komunikasi. Bahkan dalam pergaulan sehari-hari ilmu yang dipelajari juga sangat bermanfaat untuk diaplikasikan. Tidak ada orang yang tidak butuh berkomunikasi dalam kehidupannya. Karena we cannot not communicate.

Jadi, kenapa harus ragu memilih Ilmu Komunikasi? :)

(http://edukasi.kompasiana.com)